Memulai sesuatu yang luar biasa dari dini sehingga saat dewasa menjadi ahli. Mungkin kalimat tersebut memang cocok diberikan pada SDN Ibu Dewi 5 yang bertempat di Cianjur. Sekolah Dasar yang sudah beberapa kali memenangkan perlombaan adiwiyata mandala tingkat daerah dan provinsi tingkat sekolah dasar, bahkan pada bulan Maret 2010 akan mengikuti lomba adiwiyata mandala dan adipura tingkat nasional. Berbekal lingkungan sekolah yang asri dan hijau, juga warga sekolah yang melakukan rutinitas sehari – hari yang berkaitan dengan lingkungan, SDN Ibu Dewi 5 dapat dijadikan contoh nyata sekolah dasar peduli lingkungan hidup.
Berawal dari aksi peduli lingkungan yang digerakkan oleh tenaga pengajar SDN Ibu Dewi 5, sejak tahun 2007 SDN Ibu Dewi 5 mulai merubah pola sekolah menjadi sekolah yang ” Go Green “. ” Kami mendapatkan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. ” ungkap Ibu Khadijah yang bengungkapkan bahwa SDN Ibu Dewi 5 telah mendapatkan akses ke badan LH ( AMDAL ) untuk mendukung kegiatan peduli lingkungan hidup tersebut. Setiap tahun pemerintah dan instansi terkait selalu memberikan bantuan untuk mendukung program lingkungan sehat SDN Ibu Dewi 5 ini.
Terdapat beberapa fasilitas yang mendukung kegiatan tersebut. Diantaranya terdapat galeri daur ulang, dapur kompos, kantin sehat, apotik hidup dan perpustakaan yang dilengkapi dengan miniatur bencana sebagai bagian dari aktifitas belajar di sekolah tersebut. Bahkan, pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup ( PLH ) sudah menjadi salah satu pelajaran yang dimasukkan pada kurikulum sekolah.
” Rutinitas peduli lingkungan dilakukan setiap hari, tapi khusus pada hari sabtu seluruh warga sekolah bergerak untuk aktif dalam rutinitas peduli lingkungan ini, ” tambah Ibu Ati. Beliau menambahkan bahwa segala sesuatu yang ada di sekolah di usahakan terbuat dari bahan bekas yang dapat dimanfaatkan kembali. ” Serokan, penghapus bor, dan tempat sampah kami buat dari bahan bekas, ” ungkap Ibu Ati. Seluruh siswa SDN Ibu Dewi 5 selalu diberi pengarahan apa saja yang dapat mereka lakukan untuk menjaga lingkungan. Salah satunya pihak sekolah mengadakan tempat sampah untuk sampah organik dan anorganik agar siswa dapat mengetahui jenis – jenis sampah. Siswa pun diajarkan bagaimana membuat kompos dari sampah manusia dan kompos cair meskipun belum dapat di suply ke luar. Tapi kompos tersebut dapat dimanfaatkan untuk sekolah tersebut.
” Kami harap sekolah – sekolah lain dapat mengikuti jejak kami. Meskipun awalnya banyak kendala, tapi jika dimulai dari dini maka semua yang kita ajarkan akan selalu mereka amalkan. ” tutup Ibu Khadijah.














Es di laut Kutub Utara telah menipis secara dramatis sejak 2004, dan es yang lebih tua serta lebih tebal pecah dan membuka jalan bagi es yang lebih muda dan lebih tipis, yang mencair pada musim panas di Bumi belahan utara, demikian laporan beberapa ilmuwan di lembaga antariksa AS, NASA.




Ngeri banget, kalo denger kenyataan bahwa lebih dari satu juta hektar hutan yang sebagian besar merupakan hutan tropis hancur setiap bulannya di sunia – setara dengan area hutan seluas satu lapangan sepakbola hancur setiap dua detik! 
